Wonogiri, 10 September 2026 – Puluhan nisan makam lama kembali terlihat di dasar Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, setelah permukaan air menyusut pada musim kemarau. Makam-makam tersebut berada di wilayah Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, dan mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir. Sebagian nisan sudah muncul sepenuhnya dari permukaan air, sementara sebagian lainnya masih terendam karena ketinggian air waduk belum mencapai titik terendah. Nisan yang terlihat didominasi material menyerupai batu kapur berwarna putih hingga krem dengan ukuran yang beragam. Beberapa masih memiliki bentuk relatif utuh, sedangkan lainnya telah mengalami pengikisan setelah puluhan tahun terendam air. Kemunculan kompleks makam tersebut menarik perhatian karena menjadi salah satu jejak permukiman masyarakat yang pernah berada di kawasan sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
Warga Wuryantoro, Karni, mengatakan makam-makam itu mulai tampak setelah air waduk terus menyusut dalam beberapa hari terakhir. Meski puluhan nisan sudah terlihat, menurutnya masih terdapat banyak makam lain yang berada di bawah permukaan air. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan ketika permukaan waduk sedang tinggi karena seluruh area akan tertutup air dan tidak menunjukkan keberadaan bekas permakaman. Di sekitar lokasi, aktivitas masyarakat tetap berlangsung seperti biasa, terutama warga yang memancing dan petani yang memanfaatkan lahan ketika air surut. Sejauh ini belum terjadi peningkatan besar jumlah pengunjung yang datang khusus untuk melihat makam tersebut. Hanya beberapa orang terlihat mendatangi lokasi untuk melihat atau mengabadikan fenomena yang kembali muncul pada musim kemarau.
Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari menjelaskan kemunculan makam tersebut sebenarnya bukan fenomena baru bagi masyarakat sekitar. Kompleks permakaman lama hampir setiap tahun dapat terlihat ketika memasuki musim kemarau dan debit Waduk Gajah Mungkur mengalami penurunan. Biasanya, nisan sudah mulai muncul sekitar Agustus ketika permukaan air turun cukup jauh. Namun pada 2026, kemunculannya berlangsung lebih lambat dan baru terlihat secara jelas pada September. Kondisi tersebut terjadi karena debit air waduk masih relatif tinggi setelah periode penghujan sebelumnya. Akibatnya, baru sebagian kompleks permakaman yang dapat terlihat dan masih ada bagian lain yang berada di bawah air.
Lokasi makam berada sekitar 500 meter dari Kantor Kelurahan Wuryantoro dan tidak mudah dijangkau ketika permukaan waduk sedang menyusut. Pengunjung harus berjalan melewati bagian dasar waduk yang telah mengering untuk mencapai area tersebut. Permukaan tanah pada beberapa bagian masih basah dan berlumpur sehingga masyarakat perlu berhati-hati ketika mendekati lokasi. Setelah tiba di kawasan makam, terlihat batu-batu berbentuk persegi panjang tersebar pada area yang cukup luas. Panjang nisan bervariasi mulai sekitar setengah meter hingga mendekati dua meter. Beberapa di antaranya masih memiliki ukiran atau tulisan, tetapi sebagian besar sudah sulit dibaca akibat pengikisan dan paparan air dalam waktu yang sangat panjang.
Tokoh masyarakat Wuryantoro, Suparso, menjelaskan kompleks makam tersebut dahulu berada di Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari, sebelum kawasan itu menjadi bagian dari Waduk Gajah Mungkur. Permakaman digunakan masyarakat kampung dan juga menjadi lokasi makam keluarga seorang tokoh yang dikenal sebagai Eyang Raden Santri. Sosok tersebut dikenang masyarakat setempat sebagai salah satu sesepuh di wilayah Sentono. Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat, Eyang Raden Santri merupakan seorang petani yang kemudian dikenal karena perannya dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Kompleks tersebut pada masa lalu tidak hanya digunakan oleh keluarganya, tetapi berkembang menjadi tempat pemakaman umum bagi warga kampung. Karena itulah jumlah nisan yang terlihat ketika air surut cukup banyak dan tersebar pada beberapa bagian dasar waduk.
Meski nisan lama masih berada di dasar waduk, Suparso menjelaskan jenazah yang sebelumnya dimakamkan di kawasan tersebut sebenarnya telah dipindahkan ketika pembangunan Waduk Gajah Mungkur dilakukan. Pemindahan berlangsung bersamaan dengan relokasi masyarakat dari kampung-kampung yang akan terdampak genangan. Makam Eyang Raden Santri termasuk yang dipindahkan ke lokasi baru di sebelah barat Kantor Kelurahan Wuryantoro. Nisan lama tidak seluruhnya dibawa karena di tempat pemakaman baru dibuat penanda pengganti. Dengan demikian, struktur batu yang sekarang terlihat ketika air waduk surut pada dasarnya merupakan bekas nisan dari kompleks permakaman lama. Informasi tersebut penting agar kemunculan batu-batu makam tidak menimbulkan anggapan bahwa seluruh jenazah masih berada di dasar waduk.
Kemunculan makam berkaitan erat dengan sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang mengubah bentang wilayah Wonogiri secara besar-besaran pada dekade 1970-an hingga awal 1980-an. Pembangunan waduk membuat puluhan desa di sejumlah kecamatan harus direlokasi karena wilayahnya masuk kawasan genangan. Ribuan keluarga kemudian mengikuti program transmigrasi dan berpindah ke berbagai daerah di luar Jawa, termasuk sebagian warga Sentono yang menuju Jambi. Bekas rumah, lahan pertanian, jalan desa, fasilitas umum, dan permakaman kemudian berada di bawah air setelah waduk mulai beroperasi. Karena luasnya kawasan yang terdampak, jejak permukiman lama tidak hanya ditemukan di Wuryantoro. Ketika permukaan air mengalami penurunan cukup drastis, sejumlah peninggalan dari desa-desa lama dapat kembali terlihat di beberapa bagian waduk.
Fenomena serupa pernah terjadi pada musim kemarau sebelumnya dan kompleks makam lama juga ditemukan di wilayah Eromoko, Baturetno, serta Nguntoronadi. Setiap kawasan memiliki ketinggian berbeda sehingga waktu kemunculannya bergantung pada seberapa jauh permukaan air waduk menyusut. Area yang berada lebih dekat dengan tepian biasanya terlihat terlebih dahulu, sedangkan peninggalan di bagian lebih dalam membutuhkan penurunan debit yang lebih besar. Material batu kapur yang digunakan sebagai nisan membuat sebagian struktur mampu bertahan meskipun terendam selama puluhan tahun. Namun, proses pengikisan terus berlangsung sehingga sejumlah tulisan dan bentuk aslinya semakin sulit dikenali. Kondisi tersebut membuat peninggalan yang muncul memiliki nilai sebagai pengingat perubahan besar yang dialami masyarakat Wonogiri ketika pembangunan waduk dilakukan.
Waduk Gajah Mungkur sendiri memiliki peran penting dalam pengendalian banjir, irigasi, pembangkit listrik, perikanan, dan aktivitas ekonomi masyarakat Wonogiri. Pembangunannya juga berkaitan dengan upaya mengendalikan aliran Bengawan Solo setelah wilayah tersebut mengalami persoalan banjir besar pada masa sebelumnya. Di balik manfaat yang diberikan, pembangunan waduk meninggalkan sejarah perpindahan penduduk dalam skala besar yang hingga sekarang masih dikenang oleh masyarakat. Kemunculan bekas makam ketika air surut menjadi salah satu penghubung antara kehidupan masyarakat saat ini dan kampung-kampung yang dahulu berada di kawasan genangan. Bagi generasi yang pernah tinggal di sana, lokasi tersebut memiliki nilai emosional karena menjadi bagian dari tempat kelahiran dan kehidupan keluarga mereka. Sementara bagi generasi muda, fenomena tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan geografis Wonogiri setelah pembangunan waduk.
Puluhan nisan di Wuryantoro diperkirakan akan semakin terlihat apabila permukaan Waduk Gajah Mungkur terus mengalami penurunan selama musim kemarau. Namun, masyarakat yang ingin mendatangi kawasan tersebut perlu memperhatikan kondisi dasar waduk karena beberapa bagian masih berlumpur dan sulit dilalui. Pemerintah kecamatan menegaskan kemunculan makam merupakan fenomena yang berulang sehingga masyarakat setempat sudah terbiasa melihatnya ketika debit air turun. Ketika musim penghujan kembali meningkatkan volume waduk, kompleks makam lama tersebut akan kembali tertutup air seperti tahun-tahun sebelumnya. Keberadaannya tetap menjadi salah satu jejak sejarah desa-desa yang harus berpindah ketika proyek Waduk Gajah Mungkur dibangun puluhan tahun silam. Fenomena tahun ini sekaligus mengingatkan bahwa di bawah bentangan air waduk masih tersimpan berbagai peninggalan permukiman lama yang sesekali kembali terlihat mengikuti perubahan musim.






