Ketapang, 10 September 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan penyelamatan terhadap orangutan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Barat. Sedikitnya enam individu orangutan telah dievakuasi dalam rangkaian penyelamatan selama beberapa pekan setelah habitat mereka mengalami tekanan akibat kebakaran dan asap. Sejumlah orangutan ditemukan keluar dari kawasan hutan dan memasuki perkebunan maupun area yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat karena jalur pergerakan mereka terganggu. Kondisi tersebut membuat tim gabungan meningkatkan patroli dan pemantauan pada wilayah yang dianggap rawan. Penyelamatan dilakukan untuk mencegah satwa terjebak di kawasan terbakar sekaligus mengurangi risiko konflik dengan manusia.
Salah satu penyelamatan dilakukan terhadap induk orangutan bersama anaknya yang ditemukan di area perkebunan kelapa sawit di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Kedua orangutan tersebut kemudian diberi nama Mama Yayuk dan Yayuk. Informasi mengenai keberadaan mereka pertama kali diterima tim pada 25 Agustus 2026 setelah beredar rekaman yang memperlihatkan orangutan berada di sekitar perkebunan. Tim kemudian melakukan penelusuran dan pada pemeriksaan awal menemukan tanda keberadaan satwa berupa sarang. Setelah pemantauan lanjutan, Mama Yayuk dan Yayuk akhirnya ditemukan pada 27 Agustus dan dievakuasi sehari kemudian. Penyelamatan dilakukan karena kondisi habitat di sekitar lokasi semakin tidak mendukung akibat karhutla.
Pemeriksaan dokter hewan menunjukkan Mama Yayuk dan anaknya berada dalam kondisi sehat serta tidak mengalami luka. Keduanya juga masih menunjukkan perilaku liar sehingga dinilai mempunyai peluang baik untuk segera dikembalikan ke habitat yang aman. Setelah menjalani perjalanan sekitar lima jam melalui jalur darat dan air, induk dan anak tersebut dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Lokasi pelepasliaran dipilih setelah mempertimbangkan keamanan kawasan, ketersediaan tutupan hutan, serta sumber makanan yang dibutuhkan orangutan. Langkah tersebut penting karena tujuan penyelamatan bukan hanya memindahkan satwa dari lokasi kebakaran, tetapi memastikan mereka tetap dapat bertahan secara alami. Mama Yayuk dan Yayuk menjadi bagian dari rangkaian orangutan yang dievakuasi akibat karhutla di Ketapang selama Agustus 2026.
Sebelumnya, tim gabungan juga menyelamatkan tiga orangutan yang terdiri atas satu induk dan dua anak dari area perkebunan masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan. Evakuasi dilakukan setelah kebakaran memutus jalur pergerakan satwa dan membuat kawasan hutan yang dapat digunakan untuk mencari makan semakin terbatas. Kondisi semacam ini menjadi ancaman serius karena orangutan sangat bergantung pada tutupan pepohonan untuk berpindah, mencari makanan, beristirahat, dan membuat sarang. Ketika vegetasi terbakar atau terfragmentasi, satwa dapat terpaksa turun ke tanah maupun bergerak menuju perkebunan. Situasi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko terpapar asap dan api, tetapi juga membuka kemungkinan terjadinya konflik dengan manusia. Karena itu, pemantauan lapangan dilakukan secara intensif untuk menentukan apakah satwa perlu segera dievakuasi.
Rangkaian penyelamatan orangutan terdampak karhutla di Ketapang sebenarnya telah dimulai sejak awal Agustus. Pada 6 Agustus, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI dan sejumlah pihak mengevakuasi seekor orangutan jantan dari perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara. Penyelamatan kemudian berlanjut terhadap induk dan dua anak di Desa Tanjungpura serta Mama Yayuk bersama anaknya pada akhir bulan. Rentetan kejadian tersebut memperlihatkan luasnya dampak kebakaran terhadap ruang hidup satwa liar di wilayah tersebut. Habitat yang sebelumnya menjadi jalur pergerakan dapat berubah menjadi kawasan berbahaya dalam waktu relatif singkat ketika api meluas. Petugas karena itu membutuhkan informasi lapangan secara cepat agar penyelamatan dapat dilakukan sebelum kondisi orangutan memburuk.
Ancaman terhadap orangutan tidak hanya berasal dari api yang secara langsung membakar habitat. Asap pekat yang bertahan selama beberapa hari juga dapat menimbulkan gangguan serius terhadap sistem pernapasan satwa. Kondisi tersebut terlihat pada orangutan jantan dewasa bernama Sempurna yang ditemukan dalam keadaan sangat lemah di sekitar perkebunan masyarakat di Kecamatan Matan Hilir Utara pada 30 Agustus. Ketika ditemukan, satwa tersebut tidak mampu berdiri dan diduga telah terpapar asap karhutla dalam kondisi cukup berat. Tim memberikan penanganan berupa terapi oksigen dan cairan intravena, tetapi kondisi Sempurna terus menurun hingga akhirnya mati pada hari yang sama. Hasil pemeriksaan setelah kematian menemukan perubahan patologis pada paru-paru, jantung, dan ginjal yang diduga berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan oksigen akut.
Kasus tersebut membuat BKSDA Kalbar dan YIARI meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi laporan mengenai satwa liar yang terdampak karhutla. Tim medis dan penyelamatan disiagakan untuk merespons informasi masyarakat, terutama dari kawasan yang berdekatan dengan hutan, perkebunan, dan titik kebakaran. Patroli serta pemantauan di sejumlah wilayah rawan juga diperkuat sejak awal September karena pergerakan api dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi cuaca dan karakteristik lahan. Penyelamatan tidak selalu langsung dilakukan karena petugas terlebih dahulu harus menilai kondisi satwa dan kemungkinan mereka berpindah sendiri menuju habitat yang lebih aman. Namun, apabila jalur pergerakan terputus atau kondisi kesehatan satwa terancam, evakuasi menjadi pilihan yang diperlukan. Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi intervensi sekaligus memastikan keselamatan orangutan.
Ancaman karhutla kembali terlihat pada awal September ketika BKSDA Kalbar dan YIARI mengevakuasi induk orangutan berusia sekitar 20 tahun bersama anak jantannya yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan. Keduanya telah terpantau sejak pertengahan Juni di kawasan perkebunan warga yang berbatasan dengan hutan. Evakuasi akhirnya dilakukan pada 3 September setelah api semakin mendekati lokasi mereka, sementara habitat yang tersisa semakin terbatas dan tidak tersedia jalur aman untuk berpindah. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka fisik maupun luka bakar pada induk, sedangkan anaknya terlihat aktif. Namun, ditemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidung anak orangutan yang diduga berkaitan dengan paparan asap sehingga kondisi kesehatannya terus dipantau.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, rangkaian penyelamatan tersebut membuat jumlah orangutan yang ditangani BKSDA Kalbar bersama YIARI akibat ancaman karhutla di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang terus bertambah. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap satwa tidak berhenti ketika api berhasil dikendalikan. Hilangnya pohon, berkurangnya sumber makanan, terputusnya koridor pergerakan, dan paparan asap dapat memberikan tekanan dalam jangka lebih panjang terhadap orangutan. Satwa yang kehilangan habitat juga dapat bergerak semakin dekat dengan permukiman maupun perkebunan masyarakat untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Situasi tersebut meningkatkan kebutuhan pengawasan setelah kebakaran sekaligus memperkuat pentingnya pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan. Upaya konservasi karena itu perlu berjalan bersama penanganan karhutla agar habitat yang masih tersisa dapat tetap berfungsi.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan orangutan atau satwa liar lain yang berada dalam kondisi terancam di sekitar kawasan kebakaran. Informasi dari warga dinilai sangat membantu karena banyak lokasi terdampak berada dekat perkebunan dan permukiman sehingga keberadaan satwa sering kali pertama kali diketahui masyarakat. Warga juga diminta tidak mencoba menangkap, mengusir, atau menangani orangutan secara mandiri karena tindakan tersebut dapat membahayakan manusia maupun satwa. Pencegahan kebakaran tetap menjadi langkah paling penting untuk melindungi orangutan karena keselamatan mereka sangat bergantung pada keberadaan hutan sebagai habitat alami. Rangkaian evakuasi di Kalimantan Barat menjadi gambaran bahwa karhutla bukan hanya persoalan asap dan lahan terbakar, tetapi juga ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa dilindungi. Kolaborasi pemerintah, organisasi konservasi, perusahaan, dan masyarakat dibutuhkan agar penyelamatan dapat dilakukan cepat sekaligus mencegah kerusakan habitat semakin meluas.





