Kubu Raya, 5 September 2026 – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya. Kepekatan asap menyebabkan jarak pandang di kawasan bandara turun drastis hingga sekitar 200 meter pada periode terburuk, jauh dari kondisi ideal untuk mendukung aktivitas lepas landas dan pendaratan. Sejumlah penerbangan terpaksa mengalami penundaan, perubahan jadwal, pengalihan, hingga pembatalan karena keselamatan penumpang dan awak pesawat menjadi pertimbangan utama. Gangguan paling terasa pada penerbangan pagi ketika kabut asap cenderung lebih pekat dan jarak pandang berada pada level rendah. Kondisi kemudian dapat membaik menjelang siang seiring meningkatnya jarak pandang, meskipun perubahan berlangsung dinamis. Pengelola bandara terus melakukan pemantauan sebelum memberikan pelayanan penerbangan sesuai kondisi keselamatan di lapangan.
Gangguan penerbangan cukup signifikan terjadi pada Kamis, 3 September 2026, ketika jarak pandang di sekitar Bandara Supadio berada di kisaran 200 meter. Kondisi tersebut membuat penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Pontianak tidak dapat melanjutkan pendaratan dan harus kembali ke Jakarta. Dampaknya juga berpengaruh terhadap jadwal penerbangan berikutnya karena pesawat yang seharusnya tiba di Pontianak tidak tersedia untuk melayani keberangkatan dari Supadio. Pengelola bandara menjelaskan operasional secara keseluruhan tetap berjalan, tetapi pesawat hanya dapat dilayani ketika kondisi jarak pandang memenuhi persyaratan keselamatan. Bandara Supadio sendiri mempunyai jam operasional mulai pukul 06.00 hingga 20.00 WIB. Namun jam operasional tersebut tidak berarti seluruh penerbangan dapat langsung diberangkatkan apabila kondisi visual di sekitar landasan belum memungkinkan.
Selain penerbangan yang tidak dapat mendarat, sejumlah keberangkatan pada Kamis malam juga harus dibatalkan setelah penumpang menunggu selama beberapa jam. Penerbangan yang terdampak antara lain Wings Air IW1340, IW1344, dan IW1346 tujuan Ketapang, serta Lion Air JT955 tujuan Batam. Super Air Jet IU701 tujuan Jakarta, IU341 tujuan Surabaya, dan IU661 tujuan Yogyakarta juga termasuk penerbangan yang mengalami pembatalan. Batik Air ID6227 menuju Jakarta turut terdampak kondisi kabut asap yang menyelimuti kawasan bandara. Sejumlah pesawat yang seharusnya membawa penumpang dari Pontianak tidak dapat tiba di Supadio sehingga penerbangan lanjutan otomatis tidak bisa dilaksanakan sesuai jadwal. Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan calon penumpang di ruang tunggu bandara.
Penantian panjang bahkan sempat menimbulkan ketegangan di ruang tunggu lantai dua Bandara Supadio sekitar pukul 18.10 WIB. Sejumlah penumpang kecewa setelah mendapatkan kepastian bahwa penerbangan mereka tidak dapat diberangkatkan karena kondisi jarak pandang belum memenuhi persyaratan. Personel Polres Kubu Raya yang berada di lokasi kemudian melakukan pengamanan sekaligus membantu menenangkan calon penumpang. Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa Sastika Aktadivia Robinson meminta masyarakat memahami bahwa keputusan penundaan maupun pembatalan dilakukan demi keselamatan. Dalam kondisi kabut asap pekat, keputusan untuk memaksakan penerbangan dapat meningkatkan risiko pada saat pesawat melakukan pendekatan, pendaratan, maupun lepas landas. Penumpang karena itu diminta mengikuti informasi yang diberikan maskapai dan pengelola bandara.
Gangguan akibat kabut asap sebenarnya telah terjadi berulang sepanjang beberapa pekan terakhir. Pada 31 Agustus 2026, sedikitnya sepuluh penerbangan kedatangan dan keberangkatan mengalami penyesuaian jadwal karena jarak pandang menurun. Penerbangan yang terdampak ketika itu mencakup rute Pontianak-Surabaya, Singapura-Pontianak, Pontianak-Singapura, Pontianak-Ketapang, serta sejumlah penerbangan dari dan menuju Jakarta. Pada periode sebelumnya, yakni 18 hingga 20 Agustus, tercatat 15 penerbangan mengalami keterlambatan akibat persoalan serupa. Enam penerbangan kembali terganggu pada 21 Agustus ketika jarak pandang turun hingga di bawah 1.000 meter. Rangkaian tersebut memperlihatkan kabut asap telah memberikan dampak berulang terhadap konektivitas udara Kalimantan Barat selama musim karhutla.
Karakter gangguan juga sangat dipengaruhi perubahan jarak pandang sepanjang hari. Dalam beberapa hari terakhir, jarak pandang pada pagi dan sore hari dapat berada di bawah 1.000 meter, sedangkan menjelang siang kondisinya dapat membaik hingga melampaui 2.000 meter. Akibatnya, sejumlah penerbangan pagi harus menunggu sampai kondisi memungkinkan dan baru dapat dilayani sekitar tengah hari. Otoritas bandara menyebut jarak pandang yang direkomendasikan untuk mendukung operasional berada sekitar 1.000 hingga 1.600 meter, dengan penerapan tetap menyesuaikan ketentuan masing-masing maskapai dan jenis pesawat. Kondisi tersebut membuat jadwal penerbangan dapat berubah meskipun bandara secara administratif tetap dibuka. Setiap keputusan operasional harus mempertimbangkan kondisi aktual di landasan serta persyaratan keselamatan penerbangan.
Memasuki Sabtu, 5 September 2026, kondisi Bandara Supadio mulai berangsur membaik setelah jarak pandang meningkat. General Manager Bandara Internasional Supadio Maya Damayanti memastikan operasional penerbangan mulai berjalan normal dan situasi terminal tetap kondusif, tertib, serta aman. Sejumlah penumpang yang sebelumnya terdampak penundaan pada 3 dan 4 September mulai dapat melanjutkan perjalanan setelah kondisi dinilai memenuhi standar keselamatan. Pengelola bandara juga memberikan pelayanan kepada penumpang yang harus menunggu lebih lama akibat perubahan jadwal. Fasilitas berupa air minum dan area untuk menunggu hingga menginap di terminal disediakan bagi sebagian penumpang terdampak. Personel bandara turut ditempatkan untuk memberikan informasi sekaligus menjaga situasi selama proses normalisasi penerbangan berlangsung.
Pengelola Bandara Supadio menegaskan gangguan tersebut dipicu faktor alam berupa kabut asap karhutla yang membuat jarak pandang berubah dengan cepat. Kondisi itu mengharuskan pengelola bandara berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak untuk menentukan apakah penerbangan dapat dilakukan dengan aman. Pemantauan melibatkan BMKG, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, BNPB, kepolisian, serta unsur terkait lainnya. Informasi mengenai jarak pandang terus diperbarui karena kondisi pada satu waktu belum tentu sama beberapa jam kemudian. Maskapai juga memiliki standar operasional masing-masing dalam menentukan batas aman untuk melakukan penerbangan. Karena itu, penundaan maupun pembatalan dapat berbeda antara satu penerbangan dengan penerbangan lainnya meskipun berangkat dari bandara yang sama.
Dampak kabut asap terhadap penerbangan menunjukkan karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kualitas udara, tetapi juga memengaruhi aktivitas transportasi dan perekonomian. Bandara Supadio merupakan salah satu pintu utama transportasi udara di Kalimantan Barat dengan penerbangan yang menghubungkan Pontianak dengan Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Batam, Ketapang, hingga rute internasional. Gangguan berulang dapat menyebabkan perubahan rencana perjalanan penumpang sekaligus memengaruhi rotasi pesawat dan awak penerbangan. Ketika satu penerbangan tidak dapat mendarat, dampaknya dapat berlanjut terhadap jadwal keberangkatan pesawat tersebut menuju kota berikutnya. Situasi seperti itu membuat proses pemulihan jadwal membutuhkan waktu meskipun jarak pandang telah membaik. Maskapai harus mengatur ulang rotasi armada dan penumpang yang sebelumnya mengalami pembatalan atau penundaan.
Meskipun penerbangan mulai kembali normal pada Sabtu, pengawasan terhadap kondisi jarak pandang tetap dilakukan karena karhutla di Kalimantan Barat belum sepenuhnya berakhir. Calon penumpang, terutama yang memiliki jadwal keberangkatan pada pagi hari, diminta terus memeriksa informasi penerbangan sebelum menuju bandara. Perubahan tingkat kepekatan kabut asap masih dapat memengaruhi jadwal apabila jarak pandang kembali turun di bawah batas aman. Otoritas bandara menegaskan keselamatan tetap menjadi prioritas sehingga penerbangan tidak akan dipaksakan apabila kondisi dinilai berisiko. Koordinasi dengan BMKG, AirNav, maskapai, aparat keamanan, dan instansi penanganan karhutla akan terus dilakukan selama ancaman kabut asap masih berlangsung. Normalisasi operasional Bandara Supadio pun sangat bergantung pada keberhasilan pengendalian kebakaran sekaligus membaiknya kondisi udara di sekitar Kubu Raya dan wilayah Kalimantan Barat.





