Palembang, 6 September 2026 – Sebanyak 18 penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang, Sumatera Selatan, dibatalkan pada Minggu akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Gangguan operasional tersebut terutama merupakan dampak berantai dari penutupan sementara sejumlah bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang. Dari total penerbangan yang dibatalkan, sebanyak 11 merupakan penerbangan keberangkatan dan tujuh lainnya penerbangan kedatangan. Kondisi tersebut membuat perjalanan sejumlah penumpang dari dan menuju Palembang harus mengalami perubahan jadwal. Pengelola bandara terus berkoordinasi dengan maskapai serta instansi terkait untuk menangani penumpang yang terdampak. Keselamatan penerbangan tetap ditempatkan sebagai prioritas utama selama aktivitas vulkanik dan penyebaran abu masih berlangsung.
General Manager Bandara SMB II Palembang Ahmad Syaugi mengatakan dampak erupsi Anak Krakatau terhadap penerbangan di Palembang berkaitan dengan terganggunya operasional bandara tujuan maupun asal pesawat. Bandara SMB II sendiri masih menjalankan operasional secara terbatas dengan menyesuaikan kondisi penerbangan dan perkembangan situasi. Ketika bandara tujuan ditutup sementara, penerbangan dari Palembang menuju lokasi tersebut tidak dapat diberangkatkan sesuai jadwal. Situasi yang sama terjadi terhadap penerbangan yang seharusnya tiba di Palembang karena pesawat tidak dapat berangkat dari bandara asal. Kondisi ini membuat jumlah penerbangan terdampak terus bertambah dibandingkan laporan pada Minggu pagi. Pengelola bandara melakukan pembaruan informasi secara berkala karena situasi dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik.
Pada Minggu pagi, jumlah penerbangan yang dibatalkan di Bandara SMB II sebelumnya tercatat sebanyak lima penerbangan yang menghubungkan Palembang dengan Jakarta. Tiga penerbangan keberangkatan dari Palembang yang terdampak adalah Super Air Jet IU 921 dengan jadwal pukul 06.00 WIB, Pelita Air IP 311 pukul 08.45 WIB, serta Garuda Indonesia GA 107 pukul 09.30 WIB. Sementara dua penerbangan dari Jakarta menuju Palembang yang dibatalkan adalah Pelita Air IP 310 dengan jadwal kedatangan pukul 08.00 WIB dan Garuda Indonesia GA 102 yang dijadwalkan tiba pukul 07.45 WIB. Seiring berjalannya waktu dan berlanjutnya gangguan di sejumlah bandara, jumlah pembatalan kemudian meningkat menjadi 18 penerbangan. Perubahan tersebut memperlihatkan besarnya dampak berantai aktivitas vulkanik terhadap jaringan penerbangan antarkota.
Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penerbangan Palembang karena Jakarta merupakan tujuan dengan frekuensi penerbangan tinggi dari Bandara SMB II. Ketika operasional di Soekarno-Hatta dihentikan, rotasi pesawat yang seharusnya melayani penerbangan berikutnya dari Palembang juga ikut terganggu. Pesawat yang tidak dapat berangkat dari Jakarta menyebabkan penerbangan lanjutan kehilangan armada sesuai jadwal yang telah direncanakan. Selain itu, perubahan jadwal juga memengaruhi pengaturan awak pesawat dan slot penerbangan. Dampak tersebut dapat berlangsung lebih lama dibandingkan periode penutupan bandara karena maskapai membutuhkan waktu untuk menata kembali rotasi penerbangan. Kondisi serupa dapat terjadi pada sejumlah bandara lain yang memiliki konektivitas tinggi dengan Jakarta.
Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada Minggu terpantau mencakup wilayah yang cukup luas. Pemantauan atmosfer menunjukkan terdapat dua klaster abu vulkanik yang bergerak ke arah berbeda pada ketinggian tertentu. Abu pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Sementara abu yang mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia. Kondisi atmosfer tersebut menjadi perhatian serius karena abu vulkanik dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan penerbangan. Pemantauan karena itu dilakukan secara berkelanjutan untuk menjadi dasar pengambilan keputusan operasional.
Abu vulkanik menjadi salah satu bahaya yang sangat diperhitungkan dalam dunia penerbangan karena partikel halusnya dapat mengganggu berbagai komponen pesawat. Material tersebut dapat masuk ke mesin dan pada kondisi tertentu memengaruhi kemampuan mesin beroperasi secara normal. Abu juga dapat mengurangi jarak pandang serta menempel pada permukaan pesawat dan berbagai fasilitas penerbangan. Karena itu, pembatalan maupun penundaan penerbangan dilakukan sebagai langkah pencegahan ketika kondisi dinilai belum memenuhi standar keselamatan. Keputusan tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang, tetapi risiko penerbangan menjadi pertimbangan yang lebih utama. Pengoperasian kembali penerbangan dilakukan setelah kondisi dinilai aman berdasarkan informasi dan evaluasi dari otoritas terkait.
Pengelola Bandara SMB II terus berkoordinasi dengan maskapai untuk memberikan penanganan kepada penumpang yang penerbangannya dibatalkan maupun mengalami perubahan jadwal. Penumpang diarahkan mendapatkan informasi langsung mengenai opsi perjalanan yang tersedia sesuai kebijakan masing-masing maskapai. Perubahan dapat berupa penjadwalan ulang maupun bentuk penanganan lain sesuai ketentuan tiket dan kondisi operasional. Informasi mengenai keberangkatan dan kedatangan juga terus diperbarui karena jumlah penerbangan terdampak dapat berubah dalam waktu relatif cepat. Penumpang yang belum berangkat menuju bandara diminta memastikan terlebih dahulu status penerbangannya. Langkah tersebut dapat mengurangi penumpukan calon penumpang di terminal ketika penerbangan sudah dipastikan tidak dapat beroperasi sesuai jadwal.
Gangguan di Palembang merupakan bagian dari dampak lebih luas erupsi Anak Krakatau terhadap transportasi udara nasional. Bandara Soekarno-Hatta sebelumnya mencatat ratusan pergerakan penerbangan terjadwal terdampak penghentian operasional sementara akibat keberadaan abu vulkanik. Penutupan juga diberlakukan pada sejumlah bandara lain pada periode yang berbeda berdasarkan perkembangan sebaran abu dan pertimbangan keselamatan. Karena jaringan penerbangan saling terhubung, gangguan di satu bandara utama dapat dengan cepat memengaruhi jadwal di daerah lain. Pesawat dan awak yang seharusnya tiba dari Jakarta, misalnya, dapat digunakan untuk melayani rute berikutnya dari kota tujuan. Ketika satu bagian dari rotasi tersebut terhenti, rangkaian penerbangan setelahnya dapat mengalami keterlambatan atau pembatalan.
Pemantauan terhadap aktivitas Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik terus dilakukan selama kondisi belum sepenuhnya stabil. Informasi mengenai arah angin, ketinggian abu, serta wilayah yang dilalui material vulkanik menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan keamanan ruang udara. Kondisi dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer sehingga keputusan operasional penerbangan juga bersifat dinamis. Bandara yang sebelumnya ditutup dapat kembali beroperasi apabila kondisi dinyatakan aman, sementara pembatasan dapat diperpanjang jika risiko masih terdeteksi. Karena itu, jadwal penerbangan yang telah diperbarui masih berpotensi mengalami perubahan. Koordinasi antarlembaga menjadi penting agar keputusan dapat diambil berdasarkan perkembangan kondisi terbaru.
Manajemen Bandara SMB II mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara dari maupun menuju Palembang untuk terus memantau status penerbangan masing-masing. Calon penumpang disarankan berkoordinasi langsung dengan maskapai sebelum menuju bandara karena perubahan jadwal dapat terjadi mengikuti perkembangan operasional. Pengelola bandara bersama seluruh pemangku kepentingan tetap berupaya menjaga pelayanan kepada pengguna jasa di tengah gangguan akibat aktivitas vulkanik tersebut. Jumlah 18 penerbangan yang dibatalkan menunjukkan dampak erupsi Anak Krakatau tidak hanya dirasakan di kawasan sekitar Selat Sunda, tetapi juga memengaruhi konektivitas penerbangan antardaerah. Pemulihan jadwal diperkirakan dilakukan secara bertahap setelah bandara-bandara yang terdampak kembali dapat melayani penerbangan secara aman. Keselamatan penumpang dan awak pesawat tetap menjadi pertimbangan utama sebelum operasional penerbangan kembali berjalan sepenuhnya normal.






