Pekanbaru, 28 September 2026 – Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menyatakan dukungannya terhadap rencana pembentukan Politeknik Teknologi Modern (PTM) Indonesia oleh Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah. Perguruan tinggi vokasi tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil yang terus meningkat seiring perkembangan sektor industri di Riau. Dukungan disampaikan ketika Hendry menerima tim yayasan di Pekanbaru pada Sabtu (26/9). Ia menilai pendidikan vokasi perlu dibangun dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata dunia kerja.
Hendry mengatakan masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan vokasi dan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri. Kondisi tersebut menurutnya perlu dijawab melalui hubungan yang lebih kuat antara lembaga pendidikan dan pelaku usaha. Karena itu, PTM Indonesia didorong sejak awal menerapkan konsep link and match dengan dunia usaha dan industri. Kerja sama tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kurikulum dan pengembangan kompetensi mahasiswa.
Ia menyarankan lembaga pendidikan vokasi terlebih dahulu membangun nota kesepahaman dengan perusahaan yang berpotensi menjadi mitra. Langkah tersebut diperlukan agar kemampuan sumber daya manusia yang dihasilkan kampus sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pendidikan vokasi dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum akademik tanpa memahami perkembangan lapangan kerja. Keterlibatan industri juga dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi teknis yang dibutuhkan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Hendry juga menyatakan kesiapannya membantu memfasilitasi proses pembentukan PTM Indonesia. Salah satu langkah yang direncanakan adalah mengupayakan pertemuan antara Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah dan Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Fasilitasi tersebut diharapkan membantu yayasan mengomunikasikan berbagai kebutuhan maupun kendala dalam proses pendirian perguruan tinggi. Menurut Hendry, dukungan serupa juga terbuka bagi calon perguruan tinggi lain yang membutuhkan komunikasi dengan pihak terkait.
Ketua Yayasan Amaliah Thayyibah Barokah Tarmidzi Madjid menjelaskan rencana pendirian PTM Indonesia dilatarbelakangi besarnya kebutuhan industri di Riau terhadap tenaga dengan keterampilan teknis. Sejumlah sektor yang menjadi perhatian antara lain industri kelapa sawit, minyak dan gas bumi, teknologi informatika, serta teknik sipil. Yayasan sebelumnya berencana mendirikan institut, tetapi rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena masih adanya moratorium pemerintah. Pilihan kemudian diarahkan pada pembentukan perguruan tinggi berbentuk politeknik.
Persiapan pendirian PTM Indonesia disebut terus berjalan dan berbagai persyaratan pembentukan telah disiapkan. Konsultan Lembaga Riset Publik Indonesia M Rizal menyampaikan rencananya terdapat empat program studi yang akan dibuka. Yayasan menargetkan pengajuan pendaftaran PTM Indonesia kepada Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) pada Oktober 2026. Penyesuaian kurikulum, kualitas tenaga pengajar, serta hubungan dengan perusahaan menjadi beberapa aspek yang turut mendapat perhatian dalam persiapan tersebut.
Pembentukan PTM Indonesia diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan vokasi sekaligus memperluas kesempatan masyarakat Riau memperoleh keterampilan yang sesuai dengan perkembangan industri daerah. Meski mendapat dukungan Hendry, proses pendiriannya masih harus mengikuti persyaratan dan tahapan resmi yang berlaku dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kerja sama antara kampus dan industri juga menjadi salah satu unsur yang didorong agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan dunia kerja. Rencana pengajuan pada Oktober mendatang akan menjadi tahapan berikutnya dalam proses pembentukan politeknik tersebut.





