Konawe, 19 September 2026 – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp9,8 triliun. Proyek infrastruktur sumber daya air tersebut diproyeksikan menjadi bendungan terbesar di Sulawesi Tenggara sekaligus terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Bendungan Jatigede. Bendungan Pelosika menjadi bagian dari target pembangunan infrastruktur baru bidang sumber daya air periode 2025–2029. Proyek tersebut dirancang untuk memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, pengendalian banjir hingga pengembangan energi. Saat ini proyek masih berada pada tahap pemrograman dan dipersiapkan untuk memasuki proses lelang. Masa pelaksanaan pembangunan direncanakan berlangsung pada periode 2026 hingga 2030.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan bendungan perlu berjalan selaras dengan pembangunan maupun rehabilitasi jaringan irigasi. Langkah tersebut diperlukan agar air yang nantinya tertampung dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung produktivitas sektor pertanian. Ketersediaan suplai air secara berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan intensitas tanam sekaligus menjaga produktivitas petani. Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan air dalam jumlah besar, tetapi juga harus memiliki jaringan yang mampu mengalirkan air menuju kawasan pertanian yang membutuhkan. Karena itu, pembangunan Bendungan Pelosika dirancang terhubung dengan kebutuhan irigasi di Kabupaten Konawe dan wilayah sekitarnya. Pemerintah berharap infrastruktur tersebut dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.
Dari sisi kapasitas, Bendungan Pelosika dirancang memiliki total tampungan mencapai 1,117 miliar meter kubik dengan tampungan efektif sekitar 808 juta meter kubik. Luas genangannya diperkirakan mencapai 5.451,56 hektare, sementara daerah tangkapan air mencapai 2.780,93 kilometer persegi. Skala tersebut menjadi salah satu alasan Bendungan Pelosika diproyeksikan masuk jajaran tiga bendungan terbesar di Indonesia. Secara teknis, bendungan menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi sekitar 63 meter. Elevasi puncak bendungan direncanakan berada pada 121 meter dengan panjang puncak total 404,26 meter. Adapun lebar puncaknya mencapai 15 meter sehingga keseluruhan desain disiapkan untuk menampung volume air dalam jumlah sangat besar.
Manfaat terbesar Bendungan Pelosika akan diarahkan untuk memperkuat layanan irigasi bagi kawasan pertanian seluas 20.458 hektare. Luasan tersebut terdiri atas sekitar 12.678 hektare daerah irigasi yang telah berfungsi dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, indeks pertanaman ditargetkan meningkat dari sekitar 220 persen menjadi 300 persen. Peningkatan tersebut membuka peluang bagi lahan pertanian yang sebelumnya ditanami sekitar dua kali dalam setahun menjadi tiga kali dalam setahun. Ketersediaan air yang lebih stabil juga dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pola musim dan curah hujan. Pemerintah berharap manfaat tersebut dapat meningkatkan produksi pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di wilayah layanan Bendungan Pelosika.
Selain mendukung pertanian, Bendungan Pelosika dirancang menjadi salah satu sumber penyediaan air baku bagi masyarakat Kabupaten Konawe. Kapasitas air baku yang dapat disediakan diperkirakan mencapai 750 liter per detik. Air dari bendungan nantinya dapat diproses melalui instalasi pengolahan air sebelum disalurkan menggunakan jaringan perpipaan kepada masyarakat. Dengan kapasitas tersebut, layanan air bersih diperkirakan dapat menjangkau sekitar 540.000 jiwa. Keberadaan sumber air baku dalam kapasitas besar menjadi penting untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan. Infrastruktur tersebut sekaligus diharapkan dapat meningkatkan keandalan pasokan air ketika wilayah menghadapi periode kemarau atau penurunan debit sumber air lainnya.
Fungsi lainnya adalah mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi salah satu persoalan di sejumlah wilayah Kabupaten Konawe. Bendungan Pelosika dirancang mampu menekan luas kawasan berisiko banjir dari sekitar 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare. Manfaat pengendalian tersebut diproyeksikan menjangkau 10 kecamatan, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku dan Pondidaha. Tampungan dalam jumlah besar memungkinkan sebagian debit air dapat dikendalikan sebelum mengalir menuju kawasan hilir. Pengendalian debit menjadi penting terutama ketika curah hujan tinggi menyebabkan peningkatan volume air pada daerah aliran sungai. Dengan berkurangnya risiko banjir, keberadaan bendungan diharapkan memberikan perlindungan tambahan bagi kawasan permukiman, lahan pertanian dan infrastruktur publik di wilayah tersebut.
Bendungan Pelosika juga dirancang untuk mendukung pengembangan energi terbarukan di Sulawesi Tenggara. Potensi tersebut berasal dari rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air dengan kapasitas sekitar 40 megawatt. Selain tenaga air, kawasan bendungan diproyeksikan dapat mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan kapasitas mencapai 261,12 megawatt. Pemanfaatan permukaan genangan untuk pengembangan pembangkit surya dapat memperluas fungsi bendungan dari sekadar infrastruktur air menjadi bagian dari sistem penyediaan energi. Kombinasi PLTA dan PLTS tersebut memberikan peluang bagi Sulawesi Tenggara untuk meningkatkan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Apabila seluruh potensi tersebut dapat direalisasikan, Bendungan Pelosika akan memiliki fungsi yang terintegrasi dalam mendukung ketahanan pangan, air sekaligus energi.
Aspek keamanan juga menjadi bagian penting dalam rancangan proyek bernilai sekitar Rp9,8 triliun tersebut. Bendungan Pelosika akan dilengkapi pelimpah utama tipe ogee serta pelimpah darurat tipe broad-crest. Infrastruktur pelimpah diperlukan untuk mengendalikan kelebihan volume air ketika tampungan mencapai kondisi tertentu, terutama pada periode curah hujan tinggi. Dengan kapasitas tampungan yang melampaui satu miliar meter kubik, sistem keselamatan menjadi salah satu komponen utama yang harus diperhitungkan sejak tahap desain hingga konstruksi. Pembangunan juga membutuhkan pengawasan teknis yang ketat mengingat luas genangan dan daerah tangkapan air yang sangat besar. Seluruh komponen tersebut dipersiapkan agar Bendungan Pelosika dapat beroperasi secara aman sekaligus memberikan manfaat sesuai fungsi yang telah direncanakan.
Dengan masa pembangunan yang direncanakan pada 2026–2030, Bendungan Pelosika menjadi salah satu proyek strategis infrastruktur sumber daya air berskala besar yang dipersiapkan di Sulawesi Tenggara. Kebutuhan anggaran sekitar Rp9,8 triliun menggambarkan besarnya skala pembangunan sekaligus manfaat yang ditargetkan dari proyek tersebut. Setelah beroperasi, bendungan diharapkan mampu melayani irigasi lebih dari 20 ribu hektare, menyediakan air baku untuk sekitar 540 ribu penduduk dan mengurangi kawasan yang menghadapi risiko banjir. Potensi pengembangan PLTA 40 MW dan PLTS 261,12 MW juga memperluas manfaat proyek ke sektor energi. Statusnya sebagai calon bendungan terbesar ketiga di Indonesia semakin menempatkan Pelosika sebagai salah satu infrastruktur penting bagi pembangunan Sulawesi Tenggara. Pemerintah menargetkan keberadaan bendungan tersebut dapat menjadi fondasi penguatan ketahanan pangan, air dan energi sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Konawe dan kawasan sekitarnya.






