Jakarta, 4 Juni 2026 – Mochi telah lama dikenal sebagai salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Sukabumi, Jawa Barat. Teksturnya yang kenyal dengan taburan tepung serta isian kacang manis membuat kudapan ini menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke wilayah tersebut. Namun di balik popularitasnya, sejarah mochi Sukabumi ternyata menyimpan cerita yang lebih kompleks daripada anggapan umum yang selama ini berkembang di masyarakat. Banyak orang mengira mochi Sukabumi merupakan makanan yang sepenuhnya berasal dari Jepang dan kemudian diperkenalkan ke Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Sejumlah kajian sejarah dan budaya justru menunjukkan bahwa akar kuliner berbahan dasar beras ketan telah lama dikenal di kawasan Asia Tenggara, termasuk wilayah Sunda, jauh sebelum mochi menjadi populer seperti saat ini.
Menurut sejumlah sejarawan dan peneliti budaya, bahan dasar utama mochi berupa beras ketan telah dibudidayakan oleh masyarakat Sunda sejak masa Kerajaan Sunda. Keberadaan tradisi pertanian padi dan ketan di wilayah Sukabumi menjadi salah satu dasar yang digunakan untuk menjelaskan bahwa masyarakat lokal telah lama mengenal berbagai olahan berbasis beras ketan. Beberapa kajian bahkan mengaitkan perkembangan makanan serupa mochi dengan tradisi pangan yang telah tumbuh di kawasan Asia Tenggara sebelum akhirnya dikenal luas di Jepang. Pandangan ini memperkuat argumentasi bahwa mochi tidak dapat dipandang hanya sebagai produk budaya dari satu negara semata, melainkan bagian dari perkembangan kuliner berbahan beras yang tersebar di berbagai wilayah Asia.
Asal-usul mochi Sukabumi sendiri masih menjadi bahan diskusi karena terdapat beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Salah satu versi menyebutkan bahwa mochi diperkenalkan oleh tentara Jepang yang berada di Indonesia pada masa pendudukan sekitar tahun 1942 hingga 1945. Dalam proses tersebut, masyarakat lokal dan koki Sunda diduga ikut terlibat dalam pembuatan mochi untuk berbagai kegiatan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Interaksi budaya inilah yang kemudian diyakini turut memperkenalkan teknik pembuatan mochi kepada masyarakat setempat. Namun, sejumlah peneliti menilai proses tersebut lebih tepat disebut sebagai transfer keterampilan dan penguatan tradisi yang sudah memiliki akar sebelumnya, bukan sebagai awal mula keberadaan makanan berbahan ketan di Sukabumi.
Versi lain menyebutkan bahwa perkembangan mochi di Sukabumi juga tidak terlepas dari peran komunitas Tionghoa yang telah lama bermukim di kota tersebut. Dalam berbagai perayaan tradisional seperti pernikahan dan Tahun Baru Imlek, makanan berbahan ketan telah menjadi bagian penting dari tradisi kuliner masyarakat Tionghoa. Seiring berjalannya waktu, terjadi proses akulturasi antara budaya lokal, Tionghoa, dan pengaruh Jepang yang kemudian melahirkan mochi khas Sukabumi seperti yang dikenal saat ini. Perpaduan berbagai pengaruh budaya tersebut membuat mochi Sukabumi memiliki karakter yang berbeda dibandingkan mochi Jepang maupun makanan ketan serupa di negara lain.
Perkembangan mochi sebagai industri kuliner diperkirakan mulai terlihat pada era 1960-an ketika sejumlah pelaku usaha mulai memproduksinya secara komersial. Dari sekadar makanan yang dikonsumsi dalam lingkup keluarga atau komunitas tertentu, mochi perlahan berkembang menjadi salah satu identitas kuliner Kota Sukabumi. Kawasan Kaswari kemudian dikenal sebagai pusat produksi mochi yang melahirkan banyak usaha keluarga dan merek legendaris. Keberhasilan para perajin mempertahankan kualitas serta memperluas variasi rasa membuat mochi semakin populer sebagai buah tangan khas daerah. Dari generasi ke generasi, tradisi tersebut terus berkembang dan menjadi bagian dari perekonomian lokal.
Keunikan mochi Sukabumi juga terlihat dari bentuk penyajian dan cita rasanya. Jika mochi Jepang umumnya menggunakan beras khusus dan sering diisi pasta kacang merah, mochi Sukabumi lebih identik dengan isian kacang tanah manis serta kemasan anyaman bambu yang khas. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya proses adaptasi budaya yang panjang sehingga menghasilkan identitas kuliner yang berbeda dari asal-usul pengaruhnya. Inovasi rasa yang terus berkembang, mulai dari cokelat, keju, hingga berbagai varian modern lainnya, juga memperlihatkan kemampuan pelaku usaha lokal dalam menyesuaikan produk dengan selera konsumen tanpa meninggalkan ciri khas tradisionalnya.
Pengakuan terhadap nilai budaya mochi Sukabumi semakin kuat setelah kudapan ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penetapan tersebut tidak hanya menyoroti produk makanannya, tetapi juga proses budaya, keterampilan, dan tradisi yang berkembang di masyarakat selama puluhan tahun. Bagi banyak warga Sukabumi, mochi bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari identitas daerah yang mencerminkan sejarah percampuran budaya dan kreativitas masyarakat lokal. Dengan terus berkembangnya industri kuliner dan pariwisata, mochi Sukabumi diperkirakan akan tetap menjadi simbol kebanggaan daerah sekaligus bukti bahwa warisan budaya dapat lahir dari proses sejarah yang panjang dan beragam.





