Jakarta, 21 Juli 2026 – Majalah perjalanan dan gaya hidup Time Out kembali merilis daftar 20 kota dengan makanan terenak di dunia untuk tahun 2026. Pemeringkatan ini disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 24.000 responden di berbagai negara yang dipadukan dengan penilaian editor serta pakar kuliner internasional. Penilaian tidak hanya mempertimbangkan cita rasa makanan, tetapi juga kualitas restoran, keterjangkauan harga, keberagaman kuliner, hingga budaya makan yang menjadi identitas setiap kota. Hasilnya menghadirkan perpaduan kota-kota legendaris dengan destinasi kuliner yang tengah naik daun. Menariknya, salah satu kota dari negara tetangga Indonesia berhasil menempati posisi papan atas dan kembali mengukuhkan Asia Tenggara sebagai salah satu pusat kuliner dunia.
Lima di Peru berhasil dinobatkan sebagai kota dengan makanan terbaik di dunia pada 2026. Kota ini dikenal luas sebagai rumah bagi hidangan laut segar seperti ceviche serta kekayaan kuliner yang memadukan pengaruh budaya lokal, Spanyol, Jepang, hingga Tiongkok. Di posisi kedua terdapat Bangkok, Thailand, yang mempertahankan reputasinya sebagai surga kuliner jalanan dengan aneka hidangan bercita rasa kuat namun tetap ramah di kantong. Posisi ketiga ditempati Mexico City, disusul London di Inggris dan Barcelona di Spanyol yang melengkapi lima besar kota dengan pengalaman kuliner terbaik menurut Time Out. Daftar tersebut menunjukkan bahwa kekayaan rasa dan budaya makan masih menjadi faktor utama yang dicari para pencinta kuliner dunia.
Kehadiran Bangkok di posisi kedua menjadi kebanggaan tersendiri bagi kawasan Asia Tenggara. Sebagai negara tetangga Indonesia, Thailand dikenal memiliki tradisi kuliner yang kuat dengan perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan gurih dalam setiap hidangannya. Mulai dari pad thai, tom yum, mango sticky rice, hingga berbagai jajanan kaki lima menjadi magnet bagi jutaan wisatawan setiap tahunnya. Time Out juga menilai budaya street food Bangkok sebagai salah satu yang paling hidup di dunia karena menawarkan makanan berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau. Faktor inilah yang membuat Bangkok terus mempertahankan posisinya sebagai destinasi kuliner kelas dunia dari tahun ke tahun.
Selain Bangkok, daftar 20 besar juga diisi oleh sejumlah kota lain yang memiliki karakter kuliner khas. Ho Chi Minh City di Vietnam berhasil masuk jajaran teratas berkat kekayaan hidangan tradisional seperti pho, banh mi, dan aneka makanan jalanan yang terus berkembang. Melbourne di Australia, Beijing di China, Athena di Yunani, hingga Lisbon di Portugal juga memperoleh tempat berkat keberhasilan mereka menghadirkan pengalaman bersantap yang memadukan tradisi dengan inovasi. Sementara itu, kota-kota seperti New York, New Orleans, Mumbai, Cape Town, hingga Kopenhagen turut melengkapi daftar berkat keberagaman budaya kuliner yang dimiliki masing-masing wilayah. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa kota dengan makanan terbaik bukan hanya ditentukan oleh restoran mewah, tetapi juga kekuatan kuliner lokal yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Dalam penyusunannya, Time Out menggunakan pendekatan yang berbeda dibandingkan pemeringkatan kuliner lainnya. Ribuan penduduk lokal diminta memberikan penilaian terhadap kualitas makanan di kota mereka sendiri, termasuk aspek harga, variasi menu, kemudahan mengakses tempat makan, hingga pengalaman bersantap secara keseluruhan. Setelah itu, hasil survei dikombinasikan dengan evaluasi para editor dan kritikus kuliner untuk menghasilkan daftar yang dianggap paling representatif. Pendekatan ini membuat hasil pemeringkatan tidak hanya berfokus pada restoran terkenal, tetapi juga menggambarkan bagaimana budaya makan berkembang di kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Dengan demikian, kota-kota yang terpilih dinilai benar-benar menawarkan pengalaman kuliner yang autentik bagi wisatawan maupun penduduk lokal.
Meski belum ada kota dari Indonesia yang masuk dalam daftar 20 besar tahun ini, kekayaan kuliner Nusantara tetap mendapat perhatian di tingkat internasional. Beragam hidangan seperti rendang, sate, nasi goreng, soto, pempek, gudeg, hingga rawon telah lama dikenal luas dan kerap masuk dalam berbagai daftar makanan terbaik dunia. Keberagaman rempah-rempah, teknik memasak tradisional, serta warisan budaya dari ratusan daerah menjadi kekuatan utama kuliner Indonesia. Banyak pelaku pariwisata menilai potensi tersebut masih sangat besar untuk terus dipromosikan sehingga kota-kota di Indonesia memiliki peluang lebih besar masuk dalam pemeringkatan internasional pada masa mendatang. Upaya memperkuat promosi gastronomi juga diyakini dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Daftar terbaru dari Time Out kembali menegaskan bahwa kuliner telah menjadi salah satu alasan utama seseorang memilih destinasi wisata. Pengalaman mencicipi makanan khas kini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap perjalanan, melainkan menjadi tujuan utama bagi banyak wisatawan dari berbagai negara. Kehadiran Bangkok sebagai wakil Asia Tenggara di papan atas menunjukkan bahwa kawasan ini tetap menjadi salah satu pusat kuliner paling menarik di dunia. Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan rasa dan tradisi memasaknya memiliki peluang besar untuk semakin dikenal di panggung internasional apabila promosi, inovasi, dan pelestarian kuliner lokal terus dilakukan secara konsisten.





