Sukabumi, 8 Juni 2026 – Kunjungan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, ke Sukabumi tidak hanya menarik perhatian karena agenda kegiatannya, tetapi juga karena momen kuliner yang ikut menjadi sorotan masyarakat. Dalam kunjungannya ke kota tersebut, Erick menyempatkan diri menikmati hidangan di Sate H. Mamat, salah satu kuliner legendaris yang telah lama dikenal oleh warga Sukabumi maupun wisatawan dari berbagai daerah. Kehadirannya di tempat makan tersebut langsung menarik perhatian masyarakat dan pengunjung yang berada di lokasi. Momen tersebut kemudian menjadi perbincangan karena memperlihatkan ketertarikan Erick terhadap kuliner lokal yang telah menjadi bagian dari identitas daerah. Selain menunjukkan kecintaannya terhadap makanan khas Nusantara, kunjungan itu juga kembali mengangkat popularitas salah satu ikon kuliner Sukabumi yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Sate H. Mamat dikenal sebagai salah satu kuliner yang memiliki sejarah panjang di Sukabumi. Rumah makan tersebut telah melayani pelanggan dari berbagai generasi dan menjadi tujuan favorit bagi banyak orang yang berkunjung ke kota tersebut. Keistimewaan menu yang disajikan terletak pada cita rasa khas yang dipertahankan secara konsisten selama bertahun-tahun. Perpaduan daging yang diolah dengan teknik tertentu, bumbu yang meresap, serta racikan saus yang menjadi ciri khas membuat tempat ini memiliki banyak pelanggan setia. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja menyempatkan diri datang ke Sukabumi hanya untuk menikmati hidangan yang telah melegenda tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, wisata kuliner memang menjadi salah satu sektor yang semakin berkembang di berbagai daerah Indonesia. Banyak kota dan kabupaten mulai memanfaatkan kekuatan kuliner lokal sebagai bagian dari daya tarik wisata yang mampu mendatangkan pengunjung. Sukabumi termasuk daerah yang memiliki kekayaan kuliner cukup beragam dan dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat maupun luar daerah. Kehadiran tokoh nasional yang menikmati kuliner setempat sering kali memberikan dampak positif karena mampu meningkatkan perhatian publik terhadap usaha kuliner yang bersangkutan. Situasi seperti ini juga membantu memperluas promosi daerah melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Para pelaku usaha kuliner menilai bahwa perhatian terhadap makanan tradisional memiliki arti penting dalam menjaga keberlanjutan usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Banyak rumah makan legendaris bertahan bukan hanya karena kualitas rasa, tetapi juga karena kemampuan mereka menjaga konsistensi dan kepercayaan pelanggan. Dalam era ketika berbagai tren makanan baru terus bermunculan, mempertahankan identitas kuliner tradisional menjadi tantangan tersendiri. Namun justru karena keunikan dan sejarah yang dimiliki, banyak kuliner legendaris tetap mampu menarik minat masyarakat dari berbagai generasi. Fenomena tersebut terlihat pada sejumlah tempat makan yang terus ramai meskipun telah beroperasi selama puluhan tahun.
Kunjungan Erick Thohir ke Sate H. Mamat juga menjadi pengingat mengenai pentingnya peran usaha kuliner dalam mendukung perekonomian daerah. Sektor kuliner merupakan salah satu bagian dari ekonomi kreatif yang memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi lokal. Keberadaan rumah makan yang berhasil mempertahankan eksistensinya selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa usaha berbasis tradisi memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila dikelola dengan baik. Banyak pihak menilai bahwa kuliner legendaris dapat menjadi aset daerah yang bernilai tinggi apabila didukung melalui promosi dan pengembangan yang tepat.
Di sisi lain, pengamat pariwisata melihat bahwa tren wisata kuliner semakin menjadi salah satu alasan utama masyarakat melakukan perjalanan ke suatu daerah. Pengalaman menikmati makanan khas kini tidak lagi dianggap sebagai aktivitas pelengkap, melainkan menjadi tujuan utama bagi banyak wisatawan. Kota-kota yang mampu mempertahankan kekayaan kuliner tradisionalnya cenderung memiliki daya tarik yang lebih kuat karena menawarkan pengalaman yang autentik. Dalam konteks tersebut, Sate H. Mamat menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah usaha kuliner dapat berkembang menjadi bagian dari identitas sebuah kota. Keberadaannya tidak hanya mewakili cita rasa lokal, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan budaya masyarakat setempat.
Masyarakat Sukabumi sendiri menyambut positif perhatian yang diberikan terhadap kuliner daerah mereka. Banyak warga berharap momen seperti ini dapat semakin memperkenalkan potensi kuliner lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Dukungan terhadap usaha kuliner tradisional dianggap penting agar generasi berikutnya tetap mengenal dan menghargai warisan kuliner yang telah ada sejak lama. Selain itu, meningkatnya perhatian publik terhadap kuliner lokal juga dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lain yang bergerak di sektor yang sama. Efek promosi semacam ini sering kali membantu memperkuat posisi daerah sebagai destinasi wisata yang memiliki keunikan tersendiri.
Kunjungan Erick Thohir ke Sate H. Mamat pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda kuliner biasa. Momen tersebut memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat menjadi jembatan yang menghubungkan tokoh publik, masyarakat, dan identitas daerah dalam satu pengalaman yang sederhana namun bermakna. Di tengah perkembangan industri kuliner yang semakin modern, keberadaan tempat makan legendaris seperti Sate H. Mamat menunjukkan bahwa cita rasa autentik dan sejarah yang kuat tetap memiliki daya tarik yang besar. Dengan dukungan masyarakat serta perhatian yang terus meningkat terhadap kuliner lokal, ikon kuliner Sukabumi tersebut diperkirakan akan terus menjadi salah satu tujuan favorit bagi para pecinta makanan khas Indonesia di masa mendatang.






