Jakarta, 9 Oktober 2026 – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuka peluang kerja sama dengan rumah produksi asal Busan, Korea Selatan, untuk mengembangkan kegiatan produksi film di Ibu Kota. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi internasional dalam sektor industri kreatif, khususnya perfilman. Jakarta dinilai memiliki potensi sebagai lokasi produksi karena menawarkan beragam karakter kawasan perkotaan, budaya, dan aktivitas masyarakat. Kerja sama dengan pelaku industri film Korea Selatan diharapkan dapat membuka kesempatan pertukaran pengalaman serta pengembangan kemampuan tenaga kreatif lokal. Pemerintah daerah juga melihat sektor perfilman sebagai salah satu bidang yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif.
Peluang keterlibatan rumah produksi dari Busan menjadi perhatian karena kota tersebut memiliki hubungan erat dengan perkembangan industri perfilman Korea Selatan. Busan dikenal secara internasional melalui penyelenggaraan festival film dan berbagai kegiatan yang mempertemukan pelaku industri audiovisual. Pengalaman ekosistem perfilman di kota tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Jakarta dalam mengembangkan fasilitas dan layanan pendukung produksi. Kolaborasi lintas negara juga memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan mengenai teknologi produksi, manajemen proyek, serta distribusi karya audiovisual. Namun, realisasi kerja sama tetap membutuhkan pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk proyek dan kebutuhan masing-masing pihak.
Jakarta memiliki berbagai lokasi yang dapat dimanfaatkan sebagai latar produksi film dengan karakter visual yang berbeda. Kawasan bersejarah, pusat bisnis modern, ruang publik, hingga lingkungan permukiman menawarkan gambaran kehidupan perkotaan yang beragam. Keunikan tersebut dapat menjadi daya tarik bagi rumah produksi yang ingin menghadirkan cerita dengan latar Indonesia. Selain itu, keberadaan tenaga profesional di bidang perfilman dapat mendukung kebutuhan produksi yang melibatkan berbagai keahlian teknis. Pengembangan kerja sama internasional diharapkan mampu memperluas kesempatan bagi pekerja kreatif lokal untuk terlibat dalam proyek berskala lebih besar.
Dari sisi ekonomi, kegiatan produksi film berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sektor usaha di Jakarta. Proses pengambilan gambar membutuhkan layanan transportasi, akomodasi, konsumsi, penyewaan peralatan, serta dukungan teknis lainnya. Keterlibatan rumah produksi internasional dapat menciptakan peluang bagi perusahaan lokal yang bergerak dalam penyediaan jasa pendukung industri audiovisual. Selain itu, kegiatan perfilman dapat membuka kesempatan kerja bagi kru produksi, pemeran, penata artistik, dan tenaga kreatif lainnya. Manfaat ekonomi tersebut akan bergantung pada skala proyek serta tingkat keterlibatan pelaku usaha dan pekerja lokal.
Pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan produksi film. Kemudahan koordinasi perizinan, kejelasan prosedur penggunaan lokasi, serta dukungan pengaturan kegiatan di ruang publik menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan. Produksi film di kawasan perkotaan sering membutuhkan penyesuaian dengan aktivitas masyarakat dan kondisi lalu lintas. Oleh sebab itu, koordinasi antara rumah produksi dan instansi terkait diperlukan agar kegiatan pengambilan gambar tidak mengganggu pelayanan publik. Sistem pelayanan yang jelas dan efisien dapat meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai lokasi produksi bagi pelaku industri dalam negeri maupun luar negeri.
Kerja sama dengan rumah produksi asal Busan juga dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perfilman. Pertukaran pengalaman antara pekerja kreatif Indonesia dan Korea Selatan berpotensi memperluas pemahaman mengenai standar produksi internasional. Kegiatan seperti lokakarya, pelatihan teknis, dan pengembangan proyek bersama dapat dipertimbangkan apabila kerja sama memasuki tahap pelaksanaan. Penguasaan teknologi kamera, penyuntingan, efek visual, dan tata suara menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing industri audiovisual. Dengan dukungan pengembangan keterampilan, tenaga kreatif Jakarta diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk berpartisipasi dalam produksi internasional.
Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan produksi film dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya dan pariwisata Jakarta kepada penonton internasional. Tayangan audiovisual yang menampilkan lokasi tertentu berpotensi meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk mengenal kawasan tersebut. Jakarta memiliki kekayaan budaya yang terbentuk dari interaksi berbagai komunitas dan tradisi, termasuk warisan budaya Betawi. Keberagaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan cerita yang menampilkan karakter masyarakat perkotaan Indonesia. Namun, penggambaran budaya dalam karya film tetap perlu dilakukan secara bertanggung jawab dan menghormati nilai-nilai masyarakat setempat.
Peluang kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan rumah produksi dari Busan menunjukkan upaya memperluas hubungan internasional melalui sektor ekonomi kreatif. Tahapan berikutnya memerlukan pembahasan mengenai bentuk kolaborasi, kesiapan fasilitas, serta dukungan yang dapat diberikan oleh masing-masing pihak. Pemerintah daerah diharapkan mampu memastikan bahwa kerja sama tersebut memberikan manfaat nyata bagi perkembangan industri perfilman dan pekerja kreatif lokal. Penguatan ekosistem produksi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kemudahan layanan menjadi faktor penting untuk mendukung keberlanjutan kolaborasi. Melalui pengembangan kerja sama yang terencana, Jakarta berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat kegiatan perfilman dan industri kreatif di kawasan Asia Tenggara.





